Situs ini dibuat sekedar untuk berbagi pengalaman dalam masalah administrasi yang diperoleh selama di tempat kerja.

Kamis, 27 Desember 2012

BUDAYA PERUSAHAAN

Secara sederhana Budaya Perusahaan ( corporate culture ) kerap didefinisikan dalam kata-kata "Beginilah cara kami bekerja di sini", namun kalau menginginkan yang lebih “akademis” maka Budaya Perusahaan dapat didefinisikan sebagai: Nilai-nilai pokok yang menjadi inti dari falsafah bekerja dalam perusahaan, yang membimbing seluruh karyawan dalam bekerja, sehingga perusahaan akan mencapai sukses dalam usahanya.
Penjabaran mengenai budaya perusahaan itu sendiri adalah hal yang sulit untuk diungkapkan karena mencerminkan nilai-nilai implisit, norma dan perilaku setiap perusahaan yang berbeda-beda. Ketika budaya mendorong perilaku positif serta menciptakan nilai, maka kegiatan yang berlangsung itu telah mampu memberikan sesuatu yang lebih kepada perusahaan dalam berkompetisi begitu pula sebaliknya. Perusahaan dengan budaya adaptif yang sejalan dengan tujuan bisnis mereka, secara rutin akan mengungguli pesaing mereka. 


Tujuan budaya perusahan adalah untuk melengkapi para karyawannya dengan rasa (identitas) perusahaan dan menimbulkan komitmen terhadap nilai-nilai yang dianut oleh perusahaan.
Budaya perusahaan umumnya terdiri atas dua lapisan. Lapisan pertama adalah lapisan yang biasanya mudah dilihat dan sering dianggap mewakili budaya perusahaan secara menyeluruh. Lapisan ini terdiri atas cara orang berperilaku dan berdandan, termasuk pula simbol-simbol yang dipakai, kegiatan protokoler (seremonial), dan cerita-cerita yang sering dibicarakan oleh para anggota. Ini sering disebut sebagai identitas.  Lapisan ke dua adalah lapisan yang lebih  dalam dan itu yang sesungguhnya yang disebut budaya. Lapisan ini terdiri atas nilai-nilai pokok, filosofi, asumsi, kepercayaan, dan proses berpikir dalam perusahaan.

Perusahaan yang memiliki culture yang kuat akan mampu bertahan lama. Lihat saja IBM dengan IBM means services, P&G dengan Bussiness integrity, fair treatment of employees. Memang, bisa saja perusahaan itu sukses tanpa memiliki budaya perusahaan, tetapi keberhasilannya biasanya bersifat sementara. Perusahaan keluarga yang ambruk dalam dua generasi setelah pendirinya meninggal, bisa menjadi contoh yang nyata.

Lalu bagaimana caranya membentuk budaya perusahaan yang kuat dan mampu membawa perusahaan untuk bertahan lebih lama?  Sesungguhnya terdapat beberapa langkah yang dapat ditempuh dalam membentuk dan memelihara budaya perusahaan.

Langkah awal adalah usaha mengenali, menemukan, menyadari dan menguraikan budaya perusahaan yang build-in dari dalam perusahaan. Hal-hal yang ditemukan pada langkah awal itu dapat berupa norma-norma positif dan norma-norma negatif, atau hal-hal yang hendak dipertahankan atau diperkuat dan hal-hal yang merupakan perselisihan antara apa yang ditemukan dengan budaya perusahaan yang dikehendaki.
Langkah selanjutnya adalah menetapkan sasaran yang jelas dan dapat diukur, mengenai bagaimanakah perselisihan dapat dikurangi dan norma-norma positif terus dipertahankan untuk sasaran program dan sasaran budaya yang berupa keyakinan, sikap maupun perilaku.

Kegiatan itu disusul dengan perencanaan dan penerapan dari tindakan-tindakan yang secara ideal akan mewujudkan perubahan pada empat dimensi, yaitu pada setiap individu, pada anggota tim sekerja, pada pimpinan, dan pada perusahaan secara proses, sistem, kebijakan dan struktur.
Karena “cara bekerja” sebuah perusahaan harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang terus berubah, maka usaha untuk membentuk budaya perusahaan sebaiknya ditinjau sebagai suatu sistem. Timbal balik sebaiknya diperoleh secara berkala guna meninjau kembali kecocokan dari asumsi-asumsi semula dan menyesuaikan tindakan selanjutnya.

Lalu di mana peran manager dalam pembentukan budaya perusahaan? Setiap manager harus memikul beban untuk membentuk atau memelihara budaya perusahaannya sesuai dengan otoritasnya. Ia merupakan penerjemah dari budaya perusahaan bagi bawahan di unit kerjanya.
Terjemahannya itu tentu dipengaruhi oleh apakah ia mengerti dan menerima makro kultur dari perusahaannya. Bila sudah jelas, ia wajib memelihara, menguatkan dan mempertimbangkannya dalam setiap ketetapan dan kebijaksanaan perusahaan yang berakibat pada empat dimensi yang dibahas tadi, yaitu pada individu, kelompok, pimpinan dan perusahaan.
Bila setiap manager mampu untuk menerjemahkan “makro kultur” perusahaan menjadi suatu “mikro kultur” di unitnya masing-masing, maka perusahaan itu akan seperti berlian: suatu badan tetapi banyak segi. Adapun perusahaan yang memiliki budaya perusahaan yang positif, ibarat berlian yang tetap diasah dengan baik: meski banyak segi, cahayanya dapat menyatu.> ****

Tidak ada komentar:

DASAR ANALISA KREDIT

Pada umumnya analisa kredit akan membahas unsur 5C, yaitu character (karakter nasabah, kemauan membayar), capacity (kemampuan membayar ke...