Di era yang semakin kompetitif ini, banyak orang yang menempatkan pekerjaan sebagai hal yang terpenting dalam kehidupannya. Apakah ini sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern yang serba sibuk dan semakin mengaburkan batas-batas antara pekerjaan dengan kehidupan pribadi?. Tesai (bukan nama sebenarnya) adalah seorang karyawati disebuah bank terkemuka di Jakarta yang memulai karirnya sebagai petugas Customer Service.
Sebulan yang lalu ia diangkat menjadi Cash Outlet Manager yang memiliki beberapa anak buah. Karena persaingan yang cukup tinggi dengan karyawan lainnya, maka iapun tahu bahwa prestasi yang dicapainya ini berasal dari proses kerja keras yang ia lakukan selama ini. Selain merasa bangga, ia juga semakin terpacu untuk memberikan performance yang lebih memuaskan. Kalau biasanya ia masih dapat menikmati akhir minggu dengan jalan-jalan di mal, kumpul-kumpul dengan keluarga atau olah raga, kini ia rela untuk lembur di kantor. Malam minggu ia habiskan untuk menyelesaikan tugas-tugas kantor, dan tidak jarang pula ia membawa sebagian pekerjaannya ke rumah. Dengan tugas dan tanggung jawab yang semakin banyak, ia sering merasa kekurangan waktu untuk menyelesaikan tugasnya. Kadang-kadang, saat makan siang pun ia masih tetap memikirkan pekerjaan.
Tanda-tanda workaholic
Kondisi yang dialami oleh Tesai, merupakan fenomena workaholic, dimana pekerja mendedikasikan dirinya secara total pada kehidupan karirnya. Mereka biasa bekerja dengan beban kerja yang tinggi dan menghabiskan waktu yang panjang pula. Demi pekerjaan mereka sering mengabaikan aktivitas ataupun tanggung jawab lainnya. Bagi yang belum berkeluarga, mereka tidak lagi terlibat dalam kegiatan atau aktivitas sosial dengan teman-teman sehingga relasi dan kontak sosial semakin terbatas. Orang-orang di lingkungan sulit sekali ‘meminta’ waktu mereka. Mereka sering menolak ikutan acara-acara gaul. Alasannya? Tentu saja karena pekerjaan.
Sementara bagi yang sudah berkeluarga, seringkali lupa dengan tanggung jawab sebagai orangtua. Tidak jarang bagi orangtua yang workaholic, kehilangan saat-saat dimana anak-anak mereka tumbuh. Peran orangtua untuk membesarkan anak juga menjadi tidak seimbang, karena lebih mengandalkan pasangannya untuk lebih aktif dibandingkan dirinya. Sementara itu si anak berusaha untuk mencari perhatian orangtua mereka yang lebih mementingkan pekerjaan. Tanpa disadari peran keluarga dalam memberi perhatian diganti dengan kehadiran teman-teman. Kondisi ini lama-lama akan menimbulkan sikap dan rasa tidak peduli pada orangtua mereka. Terhadap pasangan pun, perhatian mereka semakin berkurang sehingga menimbulkan perasaan terabaikan. Tidak sedikit dari mereka merasa kurang dihargai oleh pasangan yang workaholic.
Terhadap kegiatan yang bersifat rekreasi, mereka lihat sebagai pembuangan waktu. Dengan demikian mereka lebih sering menghindari aktivitas tersebut. Kalau pun ada, kegiatan tersebut masih berkaitan dengan pekerjaan mereka. Contohnya mengikuti kegiatan olahraga, tapi topik pembicaraan masih seputar pekerjaan dalam usaha mencari peluang bisnis. Mereka seringkali mengabaikan kesehatan dan aktivitas yang tidak berhubungan dengan pekerjaan mereka.
Para ilmuwan telah menetapkan kriteria kecanduan kerja, yang mencakup beberapa ciri yang mudah dikenali.
Seseorang yang kecanduan kerja (work addicted) yang populer dengan istilah workaholic pada dasarnya dicirikan oleh kecintaan terhadap pekerjaannya. Bukan sekedar cinta, melainkan dalam istilah psikologi dikatakan sudah mencapai tahap kompulsif atau berlebihan. Secara umum orang mengatakan workaholic itu tidak sehat (negatif), sementara bekerja keras itu sehat (positif).
Membaca definisi dari berbagai sumber, umumnya workaholic itu mengandung unsur "compulsive" atau "addictive". Compulsive sendiri bisa digambarkan seperti seolah-olah ada tekanan atau paksaan batin di dalam diri seseorang untuk terus bekerja. Sedangkan addictive itu ya kecanduan atau ketagihan (umumnya dikonotasikan) oleh hal-hal negatif, seperti misalnya rokok, narkoba, dan lain-lain.
Dari beberapa literatur yang saya baca, ciri-ciri umum yang dominan dari seseorang yang keranjingan kerja (workaholic) itu, antara lain di bawah ini:
Workaholic itu mengabaikan hal-hal lain yang penting dalam hidup menurut ukuran normalnya manusia. Hal-hal yang penting itu misalnya keluarga, kesehatan, anak, istri atau suami. Senilai apapun di dunia ini menggariskan bahwa keluarga itu adalah sesuatu yang penting bagi manusia. Jika kita punya kebiasaan kerja yang membuat kita melupakan keluarga, itu berarti perlu kita waspadai jangan-jangan yang kita lakukan bukan bekerja keras, melainkan workaholic.
Workaholic itu susah mendelegasikan tugasnya atau pekerjaannya kepada orang lain. Ini ditulis oleh kolomnis Career Journal Dot Com, Dana Mattioli, (2007). Orang yang tidak bisa mendelegasikan pekerjaannya kepada orang lain pada porsi dan kondisi yang memang harus / bisa didelegasikan itu umumnya adalah orang yang tidak bisa mempercayai orang lain dengan alasan-alasan yang kurang ada faktanya. Bisa juga mungkin karena too much perfectionism. Segala sesuatu yang mengandung unsur "too much" ini juga tidak sehat secara emosi.
Workaholic itu hanya merasa "terlalu asyik" dengan pekerjaan, tetapi tidak jelas apa yang dikerjakan dan apa yang ingin diraih dengan pekerjaannya itu. Ada yang mengamati bahwa workaholic itu tidak terang-terangan mengatakan apa yang dikerjakan dan pekerjaannya. Bahkan ada yang mengatakan workaholic itu tidak bisa meneguk kebahagian dari pekerjaannya.
Dalam buku Peak Performer yang ditulis Charles Garfield (1986), menceritakan bahwa hasil observasinya terhadap sejumlah sosok yang tiba-tiba hebat di belantara bisnis di Amerika. Observasinya menyimpulkan ada enam atribut yang dimiliki oleh sosok yang dia bilang tiba-tiba hebat itu (the new heroes of American business). Keenam atribut itu adalah:
- Punya misi yang benar-benar menggerakkannya untuk melakukan aksi
- Punya sasaran yang jelas-jelas ingin diraihnya dari setiap aksi
- Punya kemampuan "self-management" yang bagus dengan mengoptimalkan kapasitas personalnya
- Punya kemampuan yang bagus dalam team building
- Punya kemampuan yang bagus dalam mengoreksi tindakannya
- Punya kemampuan yang bagus dalam menyiasati / beradaptasi dengan perubahan
Ciri-ciri workaholic lain yang mungkin juga perlu dikenali adalah:
- Kita tidak memiliki batasan mental yang jelas antara urusan rumah dan urusan kantor
- Dimanapun kita berada, yang menjadi top priority di kepala kita adalah urusan pekerjaan
- Kebahagian kita hanya terasakan ketika bersentuhan dengan pekerjaan
- Kita merasa stress dengan urusan pekerjaan
- Kita tidak tertarik dengan hal-hal yang berbau fun atau entertainment karena urusan pekerjaan
- Kita memikirkan pekerjaan meskipun kita sedang liburan
Salah satu kunci penting untuk menilai seorang itu pekerja keras atau sudah workaholic adalah keseimbangan. Inilah prinsip hidup yang sudah menjadi hukum, baik untuk manusia atau alam. Artinya, segala sesuatu yang sudah menganggu keseimbangan kita sebagai makhluk yang normal, itu berarti ada sesuatu yang perlu diluruskan. Kata seorang ahli hikmah, segala sesuatu yang sudah berlebihan (too much), biasanya akan memantulkan kebalikannya. Kerja keras itu bagus, tetapi terlalu kerja keras (workaholic), itu berpotensi tidak bagus.****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar