Fenomena Karoshi di Jepang bukan sesuatu yang baru. Perdebatan mengenai kematian akibat kerja berlebihan sudah mencuat di Jepang sejak tahun 70-an. Kasus resmi pertama Karoshi dilaporkan tahun 1969, berupa kematian seorang perkeja lelaki berumur 29 tahun akibat stroke. Sejak saat itu, kematian pekerja akibat kelebihan kerja, menjadi materi penelitian ilmiah yang menarik. Penelitian selama tiga dekade menunjukan, kematian pekerja akibat kelebihan kerja, terutama disebabkan oleh serangan jantung atau stroke. Pemicunya, stress karena kerja yang berlebihan. Karoshi bukan istilah kedokteran resmi. Akan tetapi media massa sangat sering memanfaatkan istilah tsb, untuk menunjukan kematian tiba-tiba akibat kebanyakan kerja. Dewasa ini, Karoshi merupakan masalah sosial yang amat serius di Jepang. Akan tetapi, mengapa Karoshi selama ini hanya menjadi masalah serius di Jepang? Mengapa di negara industri maju lainnya di Amerika utara atau di Eropa, jarang terdengar masalah serupa? Rupanya budaya kerja orang Jepang memang berbeda dengan budaya kerja di Eropa tengah atau di Amerika utara. Para pekerja Jepang bekerja lebih panjang dibanding rekannya di negara maju lainnya. Statistik menunjukan, setiap tahunnya pekerja Jepang bekerja lebih dari 2.000 jam. Sementara di Amerika Serikat, 1.900 jam kerja dan di Perancis, Inggris serta Jerman rata-rata 1.800 jam kerja pertahun per-pekerja. Selain itu, para pekerja Jepang lebih sering merelakan hari liburnya untuk bekerja. Para pekerja di Jepang secara tradisional maupun struktural memang harus bekerja lebih panjang, dibanding rekannya di Amerika Serikat, Perancis atau Jerman. Para pekerja Jepang selalu didorong untuk meningkatkan pendapatan dengan bekerja lembur. Hubungan kerja industrialnya juga terpusat pada perusahaan. Selain itu gaya manajemen kepegawaian di Jepang juga amat kaku. Perusahaan tidak memaksa pegawai bekerja lebih panjang, akan tetapi pegawai secara sukarela melakukanya demi prestasi. Perusahaan menjadi lebih penting dari keluarga. Penelitian ilmiah menunjukan, kasus Karoshi biasanya dipicu oleh tuntutan kerja yang terlalu tinggi dibarengi dukungan sosial yang rendah. Yang paling terkena oleh gejala Karoshi terutama para dokter, wartawan, para pekerja pabrik dan sopir taksi. Mereka terpaksa atau secara sukarela harus bekerja lebih lama, baik untuk menunjukan prestasi atau meraih pendapatan lebih tinggi. Ironisnya, dalam masa resesi seperti saat ini, para pekerja yang berisiko tinggi terserang Karoshi, harus bekerja lebih keras lagi. Karyawan pabrik atau perusahaan yang terancam bangkrut, seringkali kerja lembur tanpa dibayar, demi menyelamatkan tempat kerjanya. Warga Jepang sejak berabad-abad memang memiliki tradisi kerja keras. Budaya ini makin diperkuat setelah kekalahannya dalam perang dunia kedua. Setelah perang dunia kedua, Jepang menjadi negara dengan tenaga kerja murah melimpah. Untuk mempertahankan eksitensinya, para buruh atau pegawai harus bekerja lebih keras dan lebih panjang. Untuk menghindarkan konflik perburuhan, para pekerja di Jepang menerima sistem gaji berdasarkan senioritas. Prestasi kerja dan loyalitas diukur dari panjangnya jam kerja. Faktor-faktor inilah yang mendorong buruh bekerja lebih keras dan panjang, yang menyebabkan Karoshi. Menyadari hal tsb, kementrian tenaga kerja Jepang berkali-kali melakukan penelitian derajat kesehatan para pekerja. Penelitian tahun 1992 misalnya, mencakup 12.000 perusahaan yang melibatkan sekitar 16.000 rerponden yang dipilih secara acak. Hasilnya amat mencemaskan. Enampuluh lima persen pekerja mengeluhkan kelelahan fisik akibat kerja rutin. Empatpuluh delapan persen mengeluhkan kelelahan mental. Sekitar 57 persen responden mengeluh stress berat dan merasa tersisihkan. Penyebab utama stress adalah kondisi yang tidak menyenangkan di tempat kerja, kualitas serta kuantitas kerja. Penelitian lebih lanjut, tidak berhasil mencari kaitan sebab akibat dari kerja berlebihan dengan Karoshi. Kementrian tenaga kerja Jepang menyatakan, diperlukan penelitian lebih lanjut, untuk menjelaskan kaitannya. Sebagai tindakan pencegahan, jam kerja diusulkan untuk dikurangi. Situasi dan lingkungan kerja harus diperbaiki agar lebih nyaman. Selain itu pemeriksaan kesehatan secara rutin bagi seluruh pekerja terus ditingkatkan. Dengan berbagai tindakan seperti itu, stress di tempat kerja dan Karoshi diharapkan menurun. Menyadari bahaya Karoshi, kini semakin banyak warga Jepang yang menerapkan filsafat hidup lebih santai, atau "suro raifu" dari istilah Inggris slow life. Takuro Morinaga yang sekarang berusia 45 tahun misalnya, merencanakan pensiun dini dari pekerjaannya di insititut penelitian ekonomi terkemuka di Tokyo, dalam waktu 10 tahun mendatang. Selanjutnya ia akan hidup sebagai penulis masalah ekonomi dan petani. Sejumlah pekerja di pabrik mobil terkemuka di Jepang, juga menerima tawaran pensiun dini untuk menikmati kehidupan dengan filsafat "suro raifu". Namun dalam hiruk pikuk globalisasi, para pekerja di Jepang tetap sulit mengurangi jam kerja serta stress di tempat kerja. Artinya, Karoshi tetap mengancam dimana-mana.
sumber :
- http://www.tofugu.com/2012/01/26/the-japanese-are-dying-to-get-to-work-karoshi/
- http://www.kelas-mikrokontrol.com/jurnal/iptek/bagian-3/kematian-karena-kerja-berlebihan.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar