Mengenal Six Sigma
Di banyak organisasi, six sigma dapat berarti suatu ukuran kualitas yang diperjuangkan manajemen untuk memperbaiki proses dalam upaya mendekati kesempurnaan dari sebuah produk atau jasa layanan. Dengan kata lain Six Sigma adalah seperangkat kegiatan untuk memperbaiki proses-proses secara sistematis melalui eliminasi defect dengan menggunakan statistik dan problem solving tools secara intensif dan berkesinambungan.
Cacat atau defect itu sendiri dapat didefinisikan sebagai ketidaksesuaian produk atau jasa terhadap spesifikasi dan/atau persyaratannya.
Secara harfiah, Six Sigma adalah suatu besaran yang bisa kita terjemahan sebagai suatu proses yang memiliki kemungkinan cacat (defect opportunity) sebanyak 3,4 item dalam 1 (satu) juta produk atau jasa
Bill Smith dikenal sebagai orang pertama yang memulai dan mengembangkan Six Sigma di perusahaan electronik Motorola pada tahun 1986. Seperti juga metode-metode pendahulunya, seperti: quality control (QC), total quality management (TQM), dan Zero Defect, Six Sigma menganut konsep-konsep berikut:
Konsep Six Sigma dapat dipahami melalui tiga konsep, yaitu :
Sistem Manajemen
Pengukuran
Target
Fokus utama Six Sigma sebagai sebuah sistem manajemen ada pada tiga hal, yaitu fokus pada konsumen, manajemen proses serta fakta dan data. Dalam Six Sigma, kepuasan konsumen menjadi fokus utama. Manajeman memandang bisnis dan proses sebagai sebuah sistem yang saling mempengaruhi agar dapat memenuhi persyaratan konsumen dan mencapai target.
Setiap langkah dalam Six Sigma harus berbasis fakta dan data untuk meningkatkan objektivitas dalam pengambilan keputusan.
Sigma diambil dari huruf kecil ke-18 dari alfabet Yunani (s), dan digunakan dalam ilmu statistik sebagai simbol stadar deviasi. Istilah “six sigma” sendiri berasal dari pengertian bahwa jika suatu nilai berada pada keadaan 6s antara titik tengah dengan batas deviasi terdekatnya, bisa dikatakan secara praktis tidak akan ada produk gagal. Pendekatan pengendalian proses 6s dari Motorola mengizinkan adanya pergeseran nilai rata-rata dari proses industri sebesar ± 1,5s sehingga akan menghasilkan tingkat ketidaksesuaian sebesar 3,4 per sejuta kesempatan (3,4 DPMO = defects per million opportunities), artinya setiap satu juta kesempatan akan terdapat kemungkinan 3,4 ketidaksesuaian. Konsep ini berbeda dengan konsep 6s teoritiknya yang dihitung berdasarkan distribusi normal terpusat (normal distribution centered) akan menghasilkan tingkat ketidaksesuaian sebesar 0,002 DPMO. Perbedaan konsep ini ditunjukkan pada Tabel 1.
Tabel 1. perbedaan konsep 6s teoritik dengan 6s Motorola
==========================================================
Spec limit | konsep 6s teoritik | konsep 6s Motorola
| (normal distribution centered) | (normal distribution shifted 1.5s)
|-----------------------------------------------------------------------------------------------
| Persen | DPMO | Persen | DPMO
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
± 1s 68,2700000 317.300,0000 30,230000 697.700,00
± 2s 95,4500000 45.500,0000 69,130000 308.700,00
± 3s 99,7300000 2.700,0000 93,320000 66.810,00
± 4s 99,9937000 63,0000 99,379000 6.210,00
± 5s 99,9999430 0,5700 99,976700 233,00
± 6s 99,9999998 0,0020 99,999660 3,40
==========================================================
Metodologi
Six Sigma memiliki 2 metodologi kunci: DMAIC and DMADV, keduanya mengambil konsep siklus PDCA (plan-do-check-act) dari W. Edwards Deming. DMAIC digunakan untuk memperbaiki proses bisnis yang sedang berjalan, dan DMADV digunakan untuk menciptakan produk baru atau desain proses bagi kinerja bebas-cacat.
DMAIC didefinisikan sebagai:
1) Define, definisikan peluang, misalnya: sasaran proyek terkait dengan persyaratan pelanggan.
2) Measure, ukur kinerja dari proses yang sedang berjalan.
3) Analyze, lakukan analisis terhadap kelemahan yang ada pada proses (seperti sumber-sumber cacat), jadikan kelemahan pada proses tersebut sebagai peluang perbaikan.
4) Improve, lakukan perbaikan terhadap kinerja proses-proses yang lemah tadi.
5) Control, kendalikan kinerja dari proses-proses yang diperbaiki tadi untuk mempertahankan keuntungan.
DMADV didefinisikan sebagai:
1) Define, definisikan peluang, misalnya: sasaran proyek terkait dengan persyaratan pelanggan.
2) Measure, ukur dan tetapkan persyaratan pelanggan serta bagaimana kompetitor memenuhi persyaratan tersebut.
3) Analyze, lakukan analisis terhadap berbagai pilihan proses guna memenuhi kebutuhan dan persyaratan pelanggan tersebut.
4) Design, desain proses-proses tersebut guna memenuhi kebutuhan dan persyaratan pelanggan.
5) Verify, lakukan verifikasi terhadap kinerja proses, terlebih lagi dalam kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan dan persyaratan pelanggan.
Selain itu terdapat berbagai metodologi Six Sigma yang dikembangkan oleh berbagai institusi, seperti: DCCDI (Define, Customer Concept, Design, Implement) oleh Geoff Tennant, CDOC (Conceptualize, Design, Optimize, Control) oleh SBTI, DCDOV (Define, Concept, Design, Optimize, Verify) oleh Uniworld, DMADOV (Define, Measure, Analyze, Design, Optimize, Verify) oleh General Electric, DMEDI (Define, Measure, Explore, Develop, Implement) oleh PricewaterhouseCoopers, dll.
Implementation roles
Salah satu inovasi kunci dari Six Sigma adalah hirarki fungsi-fungsi manajemen mutu yang diadopsi dari tingkatan dalam seni bela diri Jepang. Hirarki tersebut berfungsi juga sebagai jalur karir bagi seorang professional, mulai tingkat pelaksana hingga manajemen puncak. Tingkatan dalam Six Sigma adalah sebagai berikut:
• Executive Leadership, termasuk CEO (chief executive officer) dan anggota tim manajemen puncak lainnya. Mereka bertanggung jawab dalam menyusun visi perusahaan.
• Champions, bertanggung jawab dalam penerapan Six Sigma diseluruh organisasi. Champion juga bertindak sebagai mentor bagi Black Belt. Di GE, mereka disebut juga Quality Leader.
• Master Black Belts, bertindak sebagai pelatih (coach) dan pakar (expert) Six Sigma dalam organisasi. Mereka membantu para Champion dan menuntun para Black Belt dan Green Belt.
• Experts, tingkatan ini digunakan dalam Aerospace dan sektor Hankam.
• Black Belts, melaksanakan proyek pekerjaan tertentu dibawah pengawasan Master Black Belt.
• Green Belts, mereka adalah karyawan yang melakukan kegiatan-kegiatan Six Sigma berbarengan dengan fungsi dan tanggung jawab lainnya. Mereka melaksanakan kegiatan Six Sigma dibawah bimbingan Black Belt.
• Yellow Belts, mereka adalah karyawan yang telah diberi pelatihan teknik-teknik Six Sigma, namun belum melakukan dan menyelesaikan sebuah proyek Six Sigma.
ooo000ooo

Tidak ada komentar:
Posting Komentar