Menjaga Keseimbangan
Melihat workaholic sebagai persoalan hidup dengan penyebabnya yang cukup beragam, maka solusi yang bisa kita lakukan adalah dengan menjaga keseimbangan hidup (work-life balance). Keseimbangan ini adalah keseimbangan kondisi batin (the mind). Bila kita terus belajar mengontrol the mind, maka keseimbangan kita akan semakin bagus.
Terkait dengan keseimbangan diatas, beberapa hal yang bisa perlu kita lakukan adalah:
Pertama, merumuskan tujuan atau sasaran di area hidup yang penting. Ini misalnya finansial, karir-usaha, keluarga, sosial, intelektual, spiritual, pendidikan anak, dan lain-lain. Kalau yang beri sasaran itu hanya soal karir dan usaha, sementara keluarga kita biarkan berjalan sendiri, ini berpotensi membuat kita hanya terfokus pada urusan kerja-usaha. Kalau kita hanya punya target pada urusan finansial, sementara spiritual dan intelektual kita terabaikan, ini tidak akan lebih nikmat dibanding dengan ketika kita punya perhatian terhadap target finansial dan target spiritual dan intelektual.
Untuk siapa saja, terutama bagi kita yang sehari-harinya hidup di lingkungan industri, jangan sampai mengabaikan hal-hal yang spiritual. Kenapa? Spiritual adalah kapasitas tertentu di dalam diri setiap orang yang bertugas mempertanyakan hal-hal yang sangat fundamental dalam hidup. Misalnya apa makna hidup saya, kemana langkah hidup saya, dan lain-lain.
Kedua, merumuskan skala prioritas. Dari sekian banyak tujuan atau sasaran yang kita bikin, tentu tidak mungkin semuanya mendapatkan perhatian yang sama sehingga perlu memberikan perhatian (care) yang proporsional pada area hidup yang penting.
Menurut Maslow, area hidup yang penting itu antara lain: urusan Fisiologis, Rasa Aman, Sosial, Penghargaan atau Pengakuan, dan Aktualisasi diri. Untuk pengembangan diri, area penting ini tidak usah kita bikin hirarki. Misalnya, kita hanya akan mau mengaktualisasikan potensi setelah punya mobil, punya rumah, punya investasi, dan lain-lain. Area yang penting itu bisa kita urusi sekarang juga.
Ketiga, memanfaatkan masalah yang muncul. Menurut konsep Learning-nya Peter Senge, learning itu bisa dibagi menjadi dua, yaitu: a) Generative Learning, dan b) Adaptative Learning. Langkah pertama dan langkah kedua di atas adalah Generative Learning. Jadi kita merumuskan tujuan, membuat skala prioritasnya, dan menjalankannya sepenuh hati.
Bagaimana dengan Adaptative learning? Adaptative ini artinya kita belajar dari masalah yang muncul. Misalnya anak kita punya tingkat kenakalan yang lebih dari anak-anak seusianya. Jika hasil refleksi kita menyimpulkan bahwa itu terjadi karena si anak kurang perhatian dari kita, maka refleksi itu perlu kita jalankan. Mungkin selama ini kita baru berperan sebagai orangtua yang memberinya fasilitas fisik tetapi belum berperan sebagai ayah atau ibu yang mestinya bertugas mendidiknya. Intinya, munculnya persoalan itu perlu kita jadikan sinyal untuk memperbaiki diri.
Menggarisbawahi Kata bijak, "Life is game". Ada saatnya untuk serius, gembira, santai, bercanda-canda, fokus, dan lain-lain. Bagi yang punya anak kecil, jangan lupa melupakan waktu bercanda. Agamapun mengajarkan bahwa bercanda untuk menyenangkan hatinya anak kecil itu adalah perbuatan mulia yang mendapatkan pahala. Maslow juga mengatakab di salah satu risalahnya bahwa salah satu ciri khas "self-actualized person" itu adalah menyayangi anak-anak dan menghormati yang lebih tua. Ini bisa dijadikan hiburan agar tidak menjadi workaholic.****
Kamis, 15 November 2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
DASAR ANALISA KREDIT
Pada umumnya analisa kredit akan membahas unsur 5C, yaitu character (karakter nasabah, kemauan membayar), capacity (kemampuan membayar ke...
-
Kematian karena kerja berlebihan Ketika gelombang pengangguran melanda Amerika dan Eropa, di Jepang terjadi fenomena yang sebaliknya. Tahun ...
-
Di era yang semakin kompetitif ini, banyak orang yang menempatkan pekerjaan sebagai hal yang terpenting dalam kehidupannya. Apakah ini sudah...
-
Miniseri Handbook bag.1 Adalah sistem manajemen dengan mengikutsertakan seluruh karyawan dari semua tingkatan, dengan pen...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar