Situs ini dibuat sekedar untuk berbagi pengalaman dalam masalah administrasi yang diperoleh selama di tempat kerja.

Rabu, 14 November 2012

PENYEBAB WORKAHOLIC


Apa yang menyebabkan seseorang punya kebiasaan workaholic? Penjelasan secara detail dan spesifik mungkin akan sangat panjang. Di sini hanya akan melihat sebab-sebab yang umum saja dan hal-hal yang perlu kita pahami antara lain:

Pertama, pelampiasan / pelarian. Pekerjaan bagi orang yang bekerja keras adalah aktualisasi-diri. Istilah agamanya disebut ibadah. Pekerjaan dipahami sebagai ruangan untuk menunjukkan kebolehan, karya, atau aktualisasi potensi. Tapi, untuk sebagian orang yang terkena workaholic, pekerjaan itu dipahami sebagai pelampiasan yang paling aman atau pelarian dari persoalan hidup yang "kurang membahagiakan" di tempat lain. Bisa saja orang melampiaskan ketidakbahagiannya dengan keluarga pada pekerjaan. Karena tidak menemukan kebahagian di tengah keluarga, orang itu lantas  berpikir keluarga bukanlah sesuatu yang penting.

Kedua, tidak bahagia dengan pekerjaan, kenapa? Karakteristik yang paling menonjol dari orang yang bahagia dengan pekerjaannya adalah adanya dinamika yang progresif di dalam batinnya. Ini sama seperti orang yang bahagia dengan dirinya. Orang yang bahagia dengan pekerjaannya itu punya target, sasaran, atau tujuan-tujuan yang dinamis. Bila suatu target sudah tercapai, ada target lain lagi yang ingin dicapainya secara bertahap.

Ini agak beda dengan sebagian orang yang terkena workaholic. Mungin karena tidak menemukan kejelasan di pikiran tentang apa yang ingin dicapainya, bagaimana mencapainya, apa yang harus dilakukan untuk mencapainya, akhirnya semua "kebingungan" itu dilampiaskan ke dalam aktivitas yang bertujuan hanya untuk beraktivitas. Inilah alasan kenapa workaholic itu mengandung unsur compulsive atau addictive.
Pemahaman yang saya dapatkan adalah orang yang tidak punya dinamika batin yang dinamis terhadap pekerjaannya akan mengalami dua kemungkinan. Secara batin, kemungkinan pertama adalah batin yang bergejolak. Ini ditunjukkan ke dalam bentuk keinginan untuk pindah profesi atau pekerjaan tanpa alasan yang jelas. Kemungkinan kedua adalah batin yang sudah apatis, masa bodoh, pasrah pada realitas.

Ketiga, kalah oleh nafsu. Tidak semua orang yang terkena workaholic itu tidak bahagia dengan pekerjaannya atau profesinya. Tidak semua juga karena ada unsur pelampiasan. Bisa jadi ada yang karena kalah oleh nafsu. Diambil dari bahasa Arab (Nafs). Artinya ada dua, yaitu: jiwa (the self) dan nafsu dalam arti hawa nafsu. Hawa sendiri artinya keinginan atau jatuh dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah.
Prof. Nurcholish Madjid (1993), menjabarkan hawa nafsu itu adalah keinginan-diri yang di dalam bahasa ilmu pengetahuannya disebut subyektivitas pribadi yang berlebihan. Berlebihan di sini batasannya adalah sudah mengalahkan pertimbangan akal sehat atau sudah mengalahkan suara-suara kesadaran positif.

Kalau melihat literatur Psikologi, ada penjelasan yang kira-kira isinya sama. Ini misalnya penjelasan milik Freud di mana manusia itu ada Id-nya, ada Ego-nya dan ada Super Ego-nya. Id adalah dorongan (motive and drive) yang hanya mementingkan kesenangan dan kebanyakan melawan suara Super Ego. Super Ego adalah dorongan yang telah dibimbing oleh nilai-nilai, norma, dan keteladanan orang lain. Id umumnya memiliki dua insting, yaitu: a) Eros: Insting seseorang yang memotivasi untuk mendapatkan kesenangan (pleasure principle), b) Thanatos: Insting yang memotivasi seseorang untuk melakukan tindakan-tindakan agresif yang berpotensi merusak (Freud's Personality Factor,  www. changingmind.org)

Terkait dengan hawa nafsu, pribadi yang gagal kita kontrol itu misalnya:

- Ambisi yang berlebihan untuk mendapatkan sesuatu. Punya motivasi yang kuat untuk merealisasikan visi hidup atau bekerja keras,  ini positif atau suara Tuhan. Tapi, ambisi yang berlebihan sampai membuat kita melupakan hal-hal penting adalah hawa nafsu atau suara setan. Ini karena akan menjauhkan kita dari kebaikan.

- Filsafat hidup hedonis yang berlebihan (larut pada gemerlapnya dunia). Mengoptimalkan penggunaan resources yang sudah ada di depan mata untuk merealisasikan kesejahteraan hidup yang kita impikan adalah positif, suara akal sehat, atau suara Tuhan. Mengatur ritme hidup dengan berekreasi atau menikmati weekend sebagai upaya untuk mempositifkan pikiran adalah positif. Tapi, berfoya-foya atau hedonisme yang berlebihan adalah negatif atau suara nafsu.

- Mengejar target pribadi untuk menjadi the best di bidang kita berdasarkan kompetensi yang kita miliki, tentu ini positif. Inilah yang diperintahkan Tuhan. Tapi, memunculkan naluri kesombongan dalam bentuk misalnya kita tidak rela ada orang lain yang lebih dari kita, iri dengki, atau memainkan kartu persaingan yang tidak sehat, ini nafsu.

Itu tadi contoh dorongan hawa nafsu yang terkadang sangat halus sehingga sulit kita bedakan dalam praktek hidup. Mungkin saja yang menyebabkan seseorang menjadi workaholic adalah karena kegagalannya dalam mengontrol ambisi yang berlebihan, filsafat hedonisme, atau subyektivitas pribadi yang berlebihan.***

Tidak ada komentar:

DASAR ANALISA KREDIT

Pada umumnya analisa kredit akan membahas unsur 5C, yaitu character (karakter nasabah, kemauan membayar), capacity (kemampuan membayar ke...