Merdeka tidak hanya diukur dari terbebasnya sebuah bangsa yang
terjajah. Situasi dan kondisi dimana saat penjajahan yang
begitu lama akan membuat suatu bangsa menjadi sangat bergantung kepada bangsa lain. Tidak
adanya kebebasan bertindak untuk menentukan nasib sendiri dalam kehidupan berbangsa
adalah efek dari “nikmatnya” dijajah.
Suatu bangsa baru dapat dikatakan merdeka apabila bangsa itu sudah dapat hidup secara mandiri, tidak menggantungkan nasibnya kepada bangsa lain. Kemandirian disini khususnya menyangkut hal-hal yang general, seperti kemandirian ideologi, kemandirian ekonomi, politik, hukum, budaya, pendidikan,dan sebagainya.
Suatu bangsa baru dapat dikatakan merdeka apabila bangsa itu sudah dapat hidup secara mandiri, tidak menggantungkan nasibnya kepada bangsa lain. Kemandirian disini khususnya menyangkut hal-hal yang general, seperti kemandirian ideologi, kemandirian ekonomi, politik, hukum, budaya, pendidikan,dan sebagainya.
Hakikat Kemerdekaan
Dalam konteks agama, kemerdekaan suatu bangsa selalu
diawali dari kemerdekaan masyarakatnya atau yang lebih spesifik lagi selalu
diawali dari kemerdekaan individunya, dimana setiap individu merasa memiliki
kebebasan aqidah dan pola pikir manusia dari cara mengikuti hawa nafsu. Menurut terminologinya, aqidah hanya mengenal dua arus yaitu Arus Allah SWT dan Arus Syaitan. Arus Allah, jelas memiliki
rambu-rambunya yang baik dalam dimensi politik, ekonomi, hukum, budaya, pendidikan
dan lain-lain, yang kesemuanya mengacu kepada ketentuan Allah SWT dalam
Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Konsekuensinya
adalah ketersesatan di dunia dan neraka di akhirat, begitu sebaliknya akan
berlaku untuk arus syaitan
Kelompok libertarian atau pendukung kebebasan percaya
bahwa setiap orang harus bebas melakukan apa yang dipilihnya dalam mengisi hidupnya. Libertarian biasanya
akan cenderung mempertimbangkan nilai-nilai kebebasan dari sisi kegunaannya
walaupun hal ini tidaklah mutlak. Mereka akan berusaha untuk selalu memiliki
kesempatan maksimum dalam mengejar impiannya termasuk property dan haknya. Mereka menyadari secara penuh potensi itu namun tetap
menghormati orang lain untuk juga melakukan hal yang sama selama tidak saling
merugikan.
Ancaman Kebebasan
Kebebasan sipil
tidak akan cukup untuk mengamankan kemerdekaan pribadi. Sungguh naif jika berpikir
bahwa pemerintah adalah ancaman untuk kebebasan kita baik secara ekonomi maupun
psikologis.
Didalam scope ekonomi akan menjadi lebih jelas sebab siapapun yang benar-benar menghargai
kebebasan individu dan kemerdekaan berkomitmen akan mendapatkan peningkatan distribusi
kekayaan. Tanpa menghargai ke dua hal tersebut seseorang akan dipaksa untuk
tunduk kepada kehendak pihak lain yang lebih kaya untuk memenuhi kebutuhan
materi mereka. Pada masalah psikologis
akan terlihat adanya moment ketergantungan pendapat kepada pihak yang lebih
kuat yang tanpa disadari akan menggilas harga diri di pihak yang lemah.
Dari ke dua konteks
diatas yang apabila kebebasan pasar dibiarkan lepas tanpa kontrol pemerintah
maka dapat dipastikan dinegara tersebut akan berlaku hukum rimba, siapa yang
kuat dialah yang menang, oleh sebab itu pemerintah harus memberlakukan standard
level model kemakmuran rakyatnya seperti apa yang diinginkan. Ada pendapat yang
mengatakan bahwa “warga negara tidak
boleh terlalu kaya untuk dapat membeli lagi, begitu juga tidak boleh begitu
miskin dalam hal menjual dirinya” tidaklah terlalu salah jika dilihat dari
sisi ekonomi, sementara untuk sisi psikologis bahwa negara akan selalu menjadi
tempat ketergantungan psikologis warganya. Namun dengan masyarakat yang
terstruktur dengan baik dapat membantu meringankan ketergantungan pribadi warga
terhadap negaranya dan saya tidak berpikir bahwa negara dapat membebaskan kita
dari ketergantungan psikologis.
Sebagai contoh
individu yang sebelumnya sudah mendapat
tekanan cukup signifikan dari norma social dan akan cenderung untuk pergi
bersama pertentangannya, coba bayangkan jika masyarakat pengendara sepeda motor
tidak memakai helm (yang katakanlah dianggap terlalu “keren” atau apapun) maka
saya pikir memperkenalkan hukum yang mengatur wajib menggunakan helm dengan
memiliki efek yang menguntungkan sepenuhnya dapat dibenarkan. Dalam kasus
seperti itu pengenalan undang-undang dapat dikatakan sebagai intervensi negara
untuk mengubah perilaku warganegaranya demi kebebasan masa depan warganegaranya
itu sendiri dengan tidak perlu membahayakan orang lain atau dirinya sendiri
saat berkendara sepeda motor. Kadang-kadang campur tangan pemerintah diperlukan
untuk dapat membantu individu mencapai tingkat kebebasan pribadi yang lebih besar.
Jika saatnya
kebebasan diperoleh setelah rasa merdeka ataupun kemerdekaan diperoleh dari hasil
rasa suka cita kebebasan maka hakekatnya kita selalu berada didalam system yang
stabil yang tidak berhenti berputar. Duluan mana antara kebebasan atau kemerdekaan ****

Tidak ada komentar:
Posting Komentar