Situs ini dibuat sekedar untuk berbagi pengalaman dalam masalah administrasi yang diperoleh selama di tempat kerja.

Jumat, 17 Agustus 2012

MERDEKA UNTUK BEBAS atau BEBAS UNTUK MERDEKA



Merdeka tidak hanya diukur dari terbebasnya sebuah bangsa yang terjajah. Situasi dan kondisi dimana saat penjajahan yang begitu lama akan membuat suatu bangsa menjadi sangat bergantung kepada bangsa lain. Tidak adanya kebebasan bertindak untuk menentukan nasib sendiri dalam kehidupan berbangsa adalah efek dari “nikmatnya” dijajah.
Suatu bangsa baru dapat dikatakan merdeka apabila bangsa itu sudah dapat hidup secara mandiri, tidak menggantungkan nasibnya kepada bangsa lain. Kemandirian disini khususnya menyangkut hal-hal yang general, seperti kemandirian ideologi, kemandirian ekonomi, politik, hukum, budaya, pendidikan,dan sebagainya.

Hakikat Kemerdekaan 

Dalam konteks agama, kemerdekaan suatu bangsa selalu diawali dari kemerdekaan masyarakatnya atau yang lebih spesifik lagi selalu diawali dari kemerdekaan individunya, dimana setiap individu merasa memiliki kebebasan aqidah dan pola pikir manusia dari cara mengikuti hawa nafsu. Menurut  terminologinya,  aqidah hanya mengenal dua arus yaitu Arus Allah SWT dan Arus SyaitanArus Allah, jelas memiliki rambu-rambunya yang baik dalam dimensi politik, ekonomi, hukum, budaya, pendidikan dan lain-lain, yang kesemuanya mengacu kepada ketentuan Allah SWT dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi.  Konsekuensinya adalah ketersesatan di dunia dan neraka di akhirat, begitu sebaliknya akan berlaku untuk arus syaitan

Kelompok libertarian atau pendukung kebebasan percaya bahwa setiap orang harus bebas melakukan apa yang  dipilihnya dalam mengisi hidupnya.  Libertarian biasanya akan cenderung mempertimbangkan nilai-nilai kebebasan dari sisi kegunaannya walaupun hal ini tidaklah mutlak. Mereka akan berusaha untuk selalu memiliki kesempatan maksimum dalam mengejar impiannya  termasuk property dan haknya. Mereka  menyadari secara penuh potensi itu namun tetap menghormati orang lain untuk juga melakukan hal yang sama selama tidak saling merugikan.

Ancaman Kebebasan

Kebebasan sipil tidak akan cukup untuk mengamankan kemerdekaan pribadi. Sungguh naif jika berpikir bahwa pemerintah adalah ancaman untuk kebebasan kita baik secara ekonomi maupun psikologis.  

Didalam scope ekonomi akan menjadi lebih jelas sebab siapapun yang benar-benar menghargai kebebasan individu dan kemerdekaan berkomitmen akan mendapatkan peningkatan distribusi kekayaan. Tanpa menghargai ke dua hal tersebut seseorang akan dipaksa untuk tunduk kepada kehendak pihak lain yang lebih kaya untuk memenuhi kebutuhan materi mereka.  Pada masalah psikologis akan terlihat adanya moment ketergantungan pendapat kepada pihak yang lebih kuat yang tanpa disadari akan menggilas harga diri di pihak yang lemah.

Dari ke dua konteks diatas yang apabila kebebasan pasar dibiarkan lepas tanpa kontrol pemerintah maka dapat dipastikan dinegara tersebut akan berlaku hukum rimba, siapa yang kuat dialah yang menang, oleh sebab itu pemerintah harus memberlakukan standard level model kemakmuran rakyatnya seperti apa yang diinginkan. Ada pendapat yang mengatakan bahwa “warga negara tidak boleh terlalu kaya untuk dapat membeli lagi, begitu juga tidak boleh begitu miskin dalam hal menjual dirinya” tidaklah terlalu salah jika dilihat dari sisi ekonomi, sementara untuk sisi psikologis bahwa negara akan selalu menjadi tempat ketergantungan psikologis warganya. Namun dengan masyarakat yang terstruktur dengan baik dapat membantu meringankan ketergantungan pribadi warga terhadap negaranya dan saya tidak berpikir bahwa negara dapat membebaskan kita dari ketergantungan psikologis. 

Sebagai contoh  individu yang sebelumnya sudah mendapat tekanan cukup signifikan dari norma social dan akan cenderung untuk pergi bersama pertentangannya, coba bayangkan jika masyarakat pengendara sepeda motor tidak memakai helm (yang katakanlah dianggap terlalu “keren” atau apapun) maka saya pikir memperkenalkan hukum yang mengatur wajib menggunakan helm dengan memiliki efek yang menguntungkan sepenuhnya dapat dibenarkan. Dalam kasus seperti itu pengenalan undang-undang dapat dikatakan sebagai intervensi negara untuk mengubah perilaku warganegaranya demi kebebasan masa depan warganegaranya itu sendiri dengan tidak perlu membahayakan orang lain atau dirinya sendiri saat berkendara sepeda motor. Kadang-kadang campur tangan pemerintah diperlukan untuk dapat membantu individu mencapai tingkat kebebasan pribadi yang lebih besar.

Jika saatnya kebebasan diperoleh setelah rasa merdeka ataupun kemerdekaan diperoleh dari hasil rasa suka cita kebebasan maka hakekatnya kita selalu berada didalam system yang stabil yang tidak berhenti berputar. Duluan mana antara kebebasan atau kemerdekaan ****

Tidak ada komentar:

DASAR ANALISA KREDIT

Pada umumnya analisa kredit akan membahas unsur 5C, yaitu character (karakter nasabah, kemauan membayar), capacity (kemampuan membayar ke...