Seminggu yang lalu saya mendapat pesan singkat dari seorang teman yang menanyakan bagaimana caranya menjadi penulis yang baik. Didalam pesan singkatnya, dia menginformasikan bahwa dia pernah mencoba menulis dengan bahan yang diambil dari catatan-catatan di buku hariannya untuk dijadikan sebuah artikel atau naskah. Namun setelah membaca kembali hasil tulisannya dia menjadi tidak percaya diri dan tidak puas serta menganggap hasil tulisannya jauh dari yang diharapkan, ironisnya bahkan memvonis dirinya sendiri "Saya tidak mungkin menjadi seorang penulis..."
Lalu bagaimana menjembatani keinginan seorang yang masih awam untuk menjadi seorang penulis yang baik sekaligus menjadi penulis yang beruntung artinya tulisannya disukai dan dibaca banyak orang.
Sangat banyak penulis-penulis handal yang tidak memiliki latar belakang alumnus atau jebolan Fakultas Sastra, dan hasil tulisannyapun sangat mengagumkan. Apakah hanya dengan modal keinginan yang kuat saja sudah cukup menjadikan seseorang untuk menjadi seorang penulis?
Perlu diketahui bahwa untuk menjadi seorang penulis yang baik ada beberapa syarat yang harus dimiliki oleh si calon penulis itu sendiri.
Pertama, harus mampu menguasai bahasa dengan baik sampai dengan tahap mahir. Kenapa? Karena bahasa memiliki sifat yang dinamis sehingga selalu berkembang dari waktu ke waktu. Perkembangannya biasanya sesuai dengan latar belakang sosial budaya pemakainya, baik berdasarkan kondisi sosiologis maupun kondisi psikologis. Dikenal ada variasi atau ragam bahasa pedagang, ragam bahasa pejabat /politikus, ragam bahasa anak-anak, termasuk ragam bahasa gaul.
Kedua, penulis harus membekali diri dengan aktivitas membaca, tujuannya adalah untuk memperkaya kosakata. “Orang yang menulis bisa saja tiba-tiba blank karena miskin kosakata,”
Selanjutnya, penulis harus berpikiran terbuka atau selalu membuka wawasan berpikir. Sebenarnya penulis adalah orang-orang yang selalu terdorong untuk mengetahui banyak hal. Untuk itu penulis harus bersosialisasi dengan berbagai macam orang dan lingkungan yang berbeda-beda.
Kadang orang tidak tahu kalau dirinya kurang memiliki kemampuan dalam berpikir, menalar dan berlogika yang kuat, yang tentu akan mengalami kesulitan saat menulis, apalagi menjadi seorang penulis. Hampir dapat dipastikan, tidak ada seorangpun penulis yang berhasil, yang tidak memiliki kecerdasan dan logika. Semakin tinggi kemampuan dan logika si penulis, semakin tinggi dan besar kemungkinan menjadi penulis besar yang berhasil. Derajat penalaran dan logika, ditambah dengan saran-saran yang ditulis akan menentukan seseorang yang memiliki motivasi kuat akan berhasil dalam menulis.
Jawaban untuk pertanyaan diatas cukup sederhana yaitu, calon penulis perlu berlatih sebanyak dan sesering mungkin menulis. Gunakan sarana yang mudah seperti menulis di blog pribadi ataupun di buku harian. Yang penting lakukan hal itu dengan tekun dan konsisten.
Berikut tip-tip penting yang bisa saya sarankan:
• Menulis dengan ringkas, padat dan sekaligus menarik. Semakin sering menulis, semakin terampil menggunakan kata atau kalimat. Gunakan kata-kata atau kalimat yang relevan saja. Hindari kata yang tersaji yang tidak punya arti. Satu kata akan menambah makna tulisan penulis.
• Menulis sebaiknya tidak dilakukan sambil mengedit. Lakukan dua tahap secara terpisah. Tahap pertama menulis dan berikutnya tahap mengedit.
• Bagilah tulisan dalam beberapa paragraf pendek. Idealnya, satu paragraf itu mengungkapkan satu ide pikiran. Pecah-pecahlah panjang dan struktur kalimat sedemikian rupa agar tidak membosankan pembaca. Kalimat-kalimat yang runtut dan tidak berbelit-belit akan memberi kenyamanan pembaca tulisan.
• Menulis dengan jelas. Ini juga bisa berarti menulis dengan spesifik, tidak mengawang atau melebar tanpa relevansi dengan topik yag dibicarakan. Pembaca akan kesal saat terjebak dengan bacaan yang tidak jelas isinya. Ingatlah bahwa pembaca tidak selalu punya banyak waktu.
Sebuah novel yang tebal, kalau isinya menarik dan mengikat minat pembaca itu jelas berbeda dengan sebuah tulisan sependek satu halaman yang menuai cercaan pembaca karena isinya yang tidak jelas bagi pembacanya.
• Pentingnya bahasa yang komunikatif. Menulislah seakan sedang berbicara – alami, tanpa berpretensi sok tahu atau dengan memakai bahasa ilmiah (high class). Ini berlaku untuk banyak ragam tulisan, baik fiksi atau non-fiksi. Perkecualian bisa dipahami apabila Penulis menulis buku pelajaran atau bahan studi (textbook). Hindarilah istilah yang hanya diketahui oleh kalangan tertentu (jargon).
• Menulis dengan pesan yang kuat. Ini bisa dilakukan bila Penulis mengembangkan tulisan berdasarkan ide pokok yang jelas.
• Tunjukkan kepada pembaca tentang sesuatu, bukan menceritakannya. (Show, don’t tell). Dalam tulisan non-fiksi, ini bisa dilakukan dengan menulis hal-hal secara spesifik, tidak mengambang atau abstrak. Itu sebabnya kalimat pendek, tapi menyajikan fakta lebih disarankan daripada kalimat panjang berbelit dengan pokok ide yang kabur.
• Menulis dengan jujur. Jadilah diri sendiri. Ini akan tercermin dari cara Anda mengungkapkan pokok pikiran yang Anda yakini kebenarannya. Kejujuran yang terungkap dalam kesederhanaan menulis akan menjadi kualitas tulisan itu sendiri. Maka Anda akan terhindar dari keinginan menulis berbunga-bunga dan mengada-ada dan tidak menambah arti atau kejelasan.
• Menulis dengan bersemangat namun penuh pengendalian diri. Ini sebuah paradoks. Bersemangat menyampaikan apa yang penulis inginkan agar diketahui pembaca. Mengendalikan diri untuk menulis semua hal yang mungkin tidak berhubungan dengan pokok pikiran.
• Membaca dan membaca. Calon penulis harus berbelanja dulu sebelum bisa menjual barang bagus. Ini hanya ungkapan bahwa agar bisa menulis bagus, kita perlu membaca buku-buku bermutu sebagai perluasan wawasan dan kemampuan apresiasi tentang tulisan yang bagus itu.
Selamat menulis dan semoga Anda menjadi penulis yang berhasil.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
DASAR ANALISA KREDIT
Pada umumnya analisa kredit akan membahas unsur 5C, yaitu character (karakter nasabah, kemauan membayar), capacity (kemampuan membayar ke...
-
Kematian karena kerja berlebihan Ketika gelombang pengangguran melanda Amerika dan Eropa, di Jepang terjadi fenomena yang sebaliknya. Tahun ...
-
Di era yang semakin kompetitif ini, banyak orang yang menempatkan pekerjaan sebagai hal yang terpenting dalam kehidupannya. Apakah ini sudah...
-
Miniseri Handbook bag.1 Adalah sistem manajemen dengan mengikutsertakan seluruh karyawan dari semua tingkatan, dengan pen...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar