Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang
sempurna (At-Tin, 4).
Namun, dalam kehidupan, terkadang sifat suci ini terbenam
dan tertimbun oleh pengaruh nafsu dan godaan setan, karena memperturutkan hawa
nafsu, mudah dijangkiti sifat-sifat yang merendahkan derajat kemanusiaannya,
seperti serakah, mau menang sendiri, mencuri, menyakiti orang lain, dengki dan
suka memfitnah. Bisikan Iblis membuat manusia melakukan apa saja agar bisa
tetap survive dalam kehidupan. Hal ini membuatnya sulit berdialog dengan
nuraninya dan menangkap cahaya kebaikan dari dalam dirinya sendiri. Sengaja atau
tidak, ia telah meninggalkan dan membiarkan nuraninya terpuruk ke dalam lumpur
kehidupan materialisme, hedonisme dan individualisme.
Ia telah melakukan sesuatu yang membuat fitrah dan
kesucian dirinya menjadi gelap. Akhirnya ia berada
pada posisi pinggiran (marginal) dan terus bergerak menjauh dari titik sentral
(Allah). Ia hanya mampu menyaksikan sesuatu dari sudut pandang
dirinya sendiri.
Karena itu, manusia membutuhkan puasa untuk mengangkat
dan membersihkan nuraninya dari timbunan tersebut. Selama sebulan Ramadhan,
manusia diajak untuk kembali kepada nilai kemanusiaannya yang suci dan sempurna
tadi. Puasa merupakan upaya kreatif manusia untuk membuang karat noda yang
menempel di nuraninya dan menjaganya dari pengotorannya kembali.
Pada hakikatnya, puasa adalah proses untuk melakukan
imsak. Secara filosofis, imsak dapat dipahami sebagai upaya untuk menahan diri
dari segala kesenangan sesaat yang sifatnya semu. Sebagaimana pesan Rasulullah
SAW bahwa puasa bukan hanya sekadar menahan makan, minum dan segala sesuatu
yang membatalkannya. Hanya dengan
imsaklah manusia akan mendapatkan dan menemukan arti kemanusiaannya itu.
Barulah ketika Idul Fitri tiba, manusia mengalami
pencerahan. Tak jarang seseorang, dalam kesendiriannya menitikkan air mata
ketika mengucapkan Asma Allah atau saat mendengar takbir yang menggema. Ia
tiba-tiba merasa malu di hadapan Allah; betapa kehidupan dunia telah melalaikannya,
betapa banyak hal-hal yang telah membutakan mata hatinya yang telah ia lakukan dalam
hidupnya. Kebenaran hanya sesuatu yang mendatangkan keuntungan baginya. Etika
dan moralitas hanya sebatas kata-kata. Dengan cara itu, sesungguhnya manusia
telah berlaku zalim, menganiaya dirinya sendiri karena ia telah menodai dan
meninggalkan fitrahnya.
Idul Fitri menyentakkan manusia untuk sadar dari
kungkungan nafsu duniawi dan mengangkatnya kembali kepada asal penciptaan
(fitrah) dari nilai insaniah yang selama ini terabaikan. Secara metaforis, Idul
Fitri adalah sebuah ungkapan kelahirannya kembali manusia.
Pengalaman spiritual selama sebulan ini diharapkan mampu
mengarahkan dan membimbing perjalanan hidup kita pada masa selanjutnya serta
memelihara kita dari kekotoran jiwa kembali. Dengan kembalinya ke titik sentral
kehidupan tersebut, maka orang yang berpuasa akan mengalami peningkatan
kualitas, baik secara vertikal maupun secara horizontal.
Secara vertikal, peningkatan kualitas orang puasa
terlihat dari orientasi hidupnya yang semata-mata hanya menuju Allah, sedangkan
secara horizontal, peningkatan kualitas ini ditandai dengan peningkatan komitmennya
terhadap sesama. Kesalihan sosialnya juga meningkat seiring dengan meningkatnya
kesalihan personalnya. Orang yang kembali kepada fitrahnya memiliki kepekaan untuk
melakukan koreksi terhadap segala bentuk kesewenang-wenangan dan ketidakadilan
dan peduli terhadap penegakan etika sosial. Hal ini dilambangkan ketika akan
mengakhiri ibadah puasa, kita diwajibkan mengeluarkan zakat fitrah. Artinya,
dengan kembalinya kepada fitrah, kita diajak untuk menengok dan membantu
saudara-saudara kita yang selama ini tidak memperoleh kesempatan untuk
memperbaiki hidupnya. Inilah spirit Idul Fitri yang perlu kita kobarkan terus.***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar