Situs ini dibuat sekedar untuk berbagi pengalaman dalam masalah administrasi yang diperoleh selama di tempat kerja.

Sabtu, 28 Juli 2012

Idul Fitri : Ticket Perjalanan Menuju Kesejatian


Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sempurna (At-Tin, 4). 

Kesempurnaannya itu merupakan fitrah yang dengan sendirinya mengantarkan pada kedudukan yang tinggi dan mulia diantara makhluk Allah lainnya. Dengan kesempurnaan itu pula, manusia memiliki hakikat siap dengan sifat-sifat luhur, baik dan suci. Secara alami manusia adalah makhluk yang selalu ingin hidup dalam kesucian. Disamping mempunyai dorongan naluriah ke arah kebaikan, keluhuran, kebenaran dan kesucian, iapun merasa bahagia dan tenteram dengan kesucian itu.

Namun, dalam kehidupan, terkadang sifat suci ini terbenam dan tertimbun oleh pengaruh nafsu dan godaan setan, karena memperturutkan hawa nafsu, mudah dijangkiti sifat-sifat yang merendahkan derajat kemanusiaannya, seperti serakah, mau menang sendiri, mencuri, menyakiti orang lain, dengki dan suka memfitnah. Bisikan Iblis membuat manusia melakukan apa saja agar bisa tetap survive dalam kehidupan. Hal ini membuatnya sulit berdialog dengan nuraninya dan menangkap cahaya kebaikan dari dalam dirinya sendiri. Sengaja atau tidak, ia telah meninggalkan dan membiarkan nuraninya terpuruk ke dalam lumpur kehidupan materialisme, hedonisme dan individualisme. 

Ia telah melakukan sesuatu yang membuat fitrah dan kesucian dirinya  menjadi gelap. Akhirnya ia berada pada posisi pinggiran (marginal) dan terus bergerak menjauh dari titik sentral (Allah). Ia hanya mampu menyaksikan sesuatu dari sudut pandang dirinya sendiri.
Karena itu, manusia membutuhkan puasa untuk mengangkat dan membersihkan nuraninya dari timbunan tersebut. Selama sebulan Ramadhan, manusia diajak untuk kembali kepada nilai kemanusiaannya yang suci dan sempurna tadi. Puasa merupakan upaya kreatif manusia untuk membuang karat noda yang menempel di nuraninya dan menjaganya dari pengotorannya kembali. 

Pada hakikatnya, puasa adalah proses untuk melakukan imsak. Secara filosofis, imsak dapat dipahami sebagai upaya untuk menahan diri dari segala kesenangan sesaat yang sifatnya semu. Sebagaimana pesan Rasulullah SAW bahwa puasa bukan hanya sekadar menahan makan, minum dan segala sesuatu yang membatalkannya.  Hanya dengan imsaklah manusia akan mendapatkan dan menemukan arti kemanusiaannya itu.

Barulah ketika Idul Fitri tiba, manusia mengalami pencerahan. Tak jarang seseorang, dalam kesendiriannya menitikkan air mata ketika mengucapkan Asma Allah atau saat mendengar takbir yang menggema. Ia tiba-tiba merasa malu di hadapan Allah; betapa kehidupan dunia telah melalaikannya, betapa banyak hal-hal yang telah membutakan mata hatinya yang telah ia lakukan dalam hidupnya. Kebenaran hanya sesuatu yang mendatangkan keuntungan baginya. Etika dan moralitas hanya sebatas kata-kata. Dengan cara itu, sesungguhnya manusia telah berlaku zalim, menganiaya dirinya sendiri karena ia telah menodai dan meninggalkan fitrahnya.  
Idul Fitri menyentakkan manusia untuk sadar dari kungkungan nafsu duniawi dan mengangkatnya kembali kepada asal penciptaan (fitrah) dari nilai insaniah yang selama ini terabaikan. Secara metaforis, Idul Fitri adalah sebuah ungkapan kelahirannya kembali manusia. 

Pengalaman spiritual selama sebulan ini diharapkan mampu mengarahkan dan membimbing perjalanan hidup kita pada masa selanjutnya serta memelihara kita dari kekotoran jiwa kembali. Dengan kembalinya ke titik sentral kehidupan tersebut, maka orang yang berpuasa akan mengalami peningkatan kualitas, baik secara vertikal maupun secara horizontal.
Secara vertikal, peningkatan kualitas orang puasa terlihat dari orientasi hidupnya yang semata-mata hanya menuju Allah, sedangkan secara horizontal, peningkatan kualitas ini ditandai dengan peningkatan komitmennya terhadap sesama. Kesalihan sosialnya juga meningkat seiring dengan meningkatnya kesalihan personalnya. Orang yang kembali kepada fitrahnya memiliki kepekaan untuk melakukan koreksi terhadap segala bentuk kesewenang-wenangan dan ketidakadilan dan peduli terhadap penegakan etika sosial. Hal ini dilambangkan ketika akan mengakhiri ibadah puasa, kita diwajibkan mengeluarkan zakat fitrah. Artinya, dengan kembalinya kepada fitrah, kita diajak untuk menengok dan membantu saudara-saudara kita yang selama ini tidak memperoleh kesempatan untuk memperbaiki hidupnya. Inilah spirit Idul Fitri yang perlu kita kobarkan terus.***






Tidak ada komentar:

DASAR ANALISA KREDIT

Pada umumnya analisa kredit akan membahas unsur 5C, yaitu character (karakter nasabah, kemauan membayar), capacity (kemampuan membayar ke...